Cerita Usman Nomay: Gagas Kegiatan Ramadan Panggil Pulang dan Kuatkan Toleransi Beragama di Lutur Aru Selatan pada Malam ke-27 Ramadan 1446 Hijriah
Keterangan Foto: Salah satu jalan setapak di desa Lutur kecamatan Aru Selatan yang dipenuhi dengan lampu ela-ela (Fidikai) pada malam ke-27 ramadan 1446 Hijriah tahun 2025 Masehi. Foto: Istimewa.
Ramadan 1446 Hijriah/2025 Masehi, merupakan momentum terbaik bagi dosen sejarah peradaban Islam (SPI) fakultas ushuluddin adab dan dakwah (FUAD) IAIN Ternate, Usman Nomay, S.Ag., M.Ag untuk kembali pulang ke kampung halamannya di desa Lutur kecamatan Aru Selatan, kabupaten Kepulauan Aru, Provinsi Maluku. Ia tidak hanya pulang merayakan momen lebaran bersama keluarganya, melainkan menggagas kegiatan yang menghadirkan beragam manfaat untuk masyarakat. Bagaimana kisahnya? Simak ceritanya berikut.
Sebagai akademisi yang cukup dikenal di kampus IAIN Ternate, Maluku Utara, Usman Nomay tidak hanya berkonsentrasi mendidik mahasiswa. Namun, ia kerap disibukkan dengan kegiatan-kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM); baik di kota Ternate, Tidore Kepulauan, dan Halmahera Selatan, serta sering diundang tampil sebagai khatib salat idul fitri dan idul adha, maupun sebagai penceramah di sejumlah kabupaten di Maluku Utara.
Dari kegiatan-kegiatan itulah, mulai tercetus ide untuk menggagas sebuah kegiatan di kampung halamannya, yaitu di desa Lutur, kecamatan Aru Selatan, kabupaten kepulauan Aru, provinsi Maluku.
Setelah sekian lama memendam asa kembali ke kampungnya, untuk berbagi ilmu pengetahuan serta pengalaman bersama masyarakat, akhirnya diwujudkan pada momentum bulan ramadan maret 2025 lalu.
“Karena bulan ramadan merupakan momentum yang tepat untuk bersilahturahmi, sehingga saya menggagas kegiatan ramadan panggil pulang,” terang Usman di kediamannya, lingkungan Toloko, kelurahan Sangaji Utara, kota Ternate, Sabtu (14/3/2026).
Ia menceritakan, jelang ramadan 1446 H/2025 M, ia menyampaikan gagasan ramadan panggil pulang kepada para kerabatnya yang menetap di luar provinsi Maluku. Gagasan tersebut kemudian disambut positif, lalu dibuat WhatsApp Grup (WAG) untuk berbagai ide dan gagasan untuk memastikan pelaksanaan kegiatan.
Menurut dia, setiap ide yang ia gulirkan melalui WAG perihal rangkaian kegiatan mendapat perhatian dan respon positif. Ide tersebut kemudian bergulir dan mendapat sambutan hangat kerabat dan koleganya di kampung halamannya, desa Lutur, kecamatan Aru Selatan. Sehingga, jelang ramadan masyarakat antusias melakukan persiapan untuk mensukseskan kegiatan ramadan panggil pulang.
Dia mengungkapkan, sebagai akademisi yang sangat dihargai di kampung halamannya, sehingga permintaan yang disampaikan tetap disahuti, dan masyarakat di desa Lutur, kecamatan Aru Selatan saat itu bergerak secara bersama-sama untuk mensukseskan acara ramadan panggil pulang.
“Awal ramadan hingga malam ke-15, saya bersama keluarga masih di Ternate. Tapi, pikiran tetap tertuju ke kampung halaman, jadi setiap hari saya memantau sejauh mana persiapan yang dilakukan masyarakat,” jelasnya.
Saat persiapan kegiatan telah rampung, barulah ia bersama istri tercintanya, Nurhamsa Muhammad dan kedua anaknya bergerak dari Ternate menuju ke kepulauan Aru.
Dia menuturkan, perjalanan ke kepulauan Aru ditempuh dengan menggunakan Kapal Pelni KM Tatamailau dari pelabuhan Trikora kelurahan Goto, kota Tidore Kepulauan pada 16 Maret 2025.
“Kami tiba di kampung tepat pada hari ke-23 ramadan,” ucapnya.
Dia mengungkapkan, saat tiba di kampung halamannya, fasilitas yang ia inginkan agar masyarakat menyiapkan untuk mensukseskan kegiatan terlihat telah dibangun dengan rapih, seperti pembangunan gerbang, mengumpulkan cangkang kerang (bia), mengumpulkan minyak kelapa, dan menjaga kebersihan.
Cangkang kerang tersebut, kata dia, dipersiapkan sebagai tempat membakar lampu teplok tradisional atau yang kerap disebut masyarakat adalah lampu ela-ela, yang diletakkan di tepi jalan setapak di dalam kampung, sementara bahan bakarnya menggunakan minyak kelapa yang dibuat oleh masyarakat.
Selain lampu teplok tradisional, masyarakat juga menyiapkan obor yang nantinya dibakar pada malam ke-27 ramadan atau lazimnya disebut sebagai penyambutan malam Lailatul Qadar. Menurut dia, tradisi ela-ela di kepulauan Aru pun seperti di Maluku Utara, yakni masyarakat sangat antusias menjelang malam ke-27 ramadan, lantaran dipandang sebagai momen sakral yang sarat nilai spiritual.
“Saat kami tiba, persiapan yang dilakukan masyarakat telah rampung, seperti pembangunan gapura dan menyiapkan ribuan cangkang kerang besar yang diperuntukkan sebagai tempat membakar lampu ela-ela (Fidikai),” terangnya.
“Kalau gapura dibuat menggunakan bambu dan beratap daun rumbia serta dindingnya dipadukan dengan pelepah dahan rumbia,” imbuhnya.
Dia menjelaskan, cangkang kerang yang dipersiapkan masyarakat saat itu berjumlah 1.400. Menurut dia, jumlah yang lumayan banyak inilah masyarakat menyebut sebagai rekor membakar Fidikai (ela-ela) di kecamatan Aru Selatan.
“Pada momen puncak (malam ke-27 ramadan) memang terlihat meriah dan menghadirkan nuansa yang jauh berbeda sepanjang sejarah menyambut malam Lailatul Qadar pada bulan ramadan di Aru Selatan,” kenangnya.
“Walaupun luput dari liputan media, namun momen tersebut mendapat perhatian masyarakat, sehingga mereka mengabadikan dengan kamera ponsel dan berbagai pada beragam platform digital,” sambungnya.
Dosen sejarah peradaban Islam (SPI) IAIN Ternate itu mengungkapkan, momen pembakaran obor serta fidikai berlangsung khidmat, lantaran turut dihadiri oleh masyarakat dari umat Kristiani. Dia bilang, kehadiran keluarga beragama Kristen makin menambah kesan yang sangat berbeda, karena mereka ikut merayakan momen malam ela-ela dengan perasaan riang gembira.
“Di desa Lutur kecamatan Aru Selatan memiliki sembilan jalan setapak, dan sepanjang jalan setapak ditempatkan lampu ela-ela (fidikai), sehingga malam itu cahaya lampu dan obor memberi kesan yang berbeda,” ujarnya.
Pria yang karib di sapa Abang Us itu menjelaskan, malam ke-27 Ramadan 1446 hijriah 2025 masehi di desa Lutur kecamatan Aru Selatan membawa pesan silaturahmi dan toleransi antarumat beragama, karena dalam tradisi ini juga diikuti saudara umat Kristiani.
Menurut dia, kehadiran umat Kristiani menandai kuatnya toleransi umat beragama di desa Lutur, Aru Selatan dan hal ini sudah berlangsung secara turun temurun. Sehingga, dia menegaskan bahwa saling menghormati memberi pesan kuat soal menjunjung nilai-nilai kehidupan.
Momen menarik pada malam ke-27 ramadan saat itu, kata dia yakni menjelang pembakaran obor serta fidikai (ela-ela), masyarakat tumpah ruah di sepanjang jalan setapak dengan memakai pakaian berwarna putih, mereka kompak melantunkan surat Al-Qadr sebanyak tiga kali kemudian membakar obor dan fidikai.
Momen tersebut disaksikan oleh saudara dari umat Kristiani yang ikut membaur bersama masyarakat muslim menciptakan kesan keakraban dan keharmonisan antarsesama.
“Saudara dari umat Kristiani berdiri menyaksikan umat Muslim melantunkan ayat suci Alquran, kemudian membakar obor dan lampu fidikai di sepanjang jalan setapak, mereka pun ikut hanyut dalam kemeriahan acara,” ucapnya.
“Dan’ di tengah suasana kemeriahan acara, mereka (umat Kristiani, red) juga mengabadikan momen tersebut sambil ber-swafoto,” katanya.
“Begitupun sama halnya di malam takbiran, keluarga dari umat Kristiani kembali hadir dan menyaksikan,” imbuhnya.
Dia mengungkapkan saling menjunjung toleransi antarumat beragama di desa Lutur bukan hanya pada perayaan hari besar keagamaan. Melainkan pada momen-momen pentingnya lainnya pun masyarakat Muslim dan umat Kristiani kerap berbaur; baik pada acara khitanan maupun acara pernikahan.
Dia menjelaskan, dari sikap saling respek antarpemeluk agama inilah menguatkan tali silahturhami dan menciptakan keharmonisan yang sangat baik di desa Lutur kecamatan Aru Selatan.
“Tentu kami sangat bangga dengan nuansa seperti itu, sebab toleransi beragama di desa Lutur sangat kuat. Sikap toleransi dan saling menyayangi satu sama lainnya itu dibuktikan pada konflik bernuansa SARA pada 1999 silam, di mana masyarakat di desa Lutur meneguhkan sikap saling melindungi dan menjaga kedamaian,” ujarnya.
“Jadi, kala itu tidak terjadi gesekan, sehingga tidak ada nuansa kebencian antarpemeluk agama dan berlangsung hinggi kini, dan masyarakat di Lutur tidak terpengaruh dengan konflik bernuansa SARA di Ambon,” sambungnya.
“Desa Lutur bagian timur dihuni keluarga dari umat Kristiani, sementara di bagian Barat merupakan wilayah umat Muslim,” imbuhnya.
Suami dari almarhumah Nurhamsa Muhammad itu menjelaskan, momentum ramadan panggil pulang bukan hanya dengan tujuan merayakan malam lailatul qadar dan silahturahmi pasca lebaran, melainkan diselipkan dengan kegiatan-kegiatan penting lainnya, seperti menggelar acara Tarawih besama serta Nuzulul Quran menyampaikan kultum ramadan, dan menghadiri kegiatan-kegiatan majlis ta’lim.
Dia menilai kehadiran dirinya bersama keluarga di kampung halamannya membawa dampak positif bagi masyarakat, karena selain bersilahturahmi, juga berbagi ilmu dan pengalaman kepada masyarakat.
Menurut dia, momen ramadan panggil pulang pada 2025 lalu merupakan momentum terbaik sepanjang sejarah di desa Lutur, kacamatan Aru Selatan. Pasalnya, masyarakat Lutur yang hidup diperantauan kembali pulang dan merayakan idul fitri di desa Lutur.
“Saat itu, jadwal saya memang padat, mulai dari mengisi acara di majlis ta’lim, kemudian memberi kultum seusai salat tarawih dan subuh, lalu khotbah jum’at dan momen puncaknya adalah menjadi khatib idul fitri,” ungkapnya.
“Kemudian mengisi hikmah Nuzul Qur’an dan Halal Bihalal,” imbuhnya.
Untuk acara Nuzulul Qur’an, kata dia, diselipkan launching salah satu karya yang menceritakan soal Islamisasi di kampung halamannya, yakni buku berjudul Islamisasi di Lutur dan Peran Masjid Rahmat Kemarin dan Hari Ini.
“Acara launching buku saat itu juga dihadiri oleh Kakanmenag Kepulauan Aru, Dr M. Hanafi Rumatiga, S.Ag., M.Pd,” katanya.
“Dan buku yang kami bawa dari Ternate itu, kemudian dibagikan kepada kepala desa, para tokoh agama, tokoh masyarakat dan para generasi muda Lutur,” akunya.
Sementara untuk acara Halal Bihalal, lanjut dia, dikemas jauh lebih menarik dan meriah. Karena bukan hanya dihadiri oleh umat Muslim, melainkan mereka juga mengundang pendeta dan keluarga dari umat Kristiani.
“Alhamdulillah, kegiatan ramadan panggil pulang pada 2025 lalu mendapat respon positif dari masyarakat,” katanya, mengakhiri. (*)