Rektor Dr Adnan Mahmud Komitmen Tuntaskan Transfromasi IAIN Ternate Menjadi UIN Sultan Baabullah Serta Akselerasi Guru Besar
Keterangan Foto: Rektor IAIN Ternate Dr Adnan Mahmud, S.Ag., M.A
TERNATE – Setelah dilantik oleh Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar sebagai Rektor IAIN Ternate, Maluku Utara, periode 2026-2030 Dr Adnan Mahmud, S.Ag., M.A memastikan bakal menghadirkan perubahan untuk IAIN Ternate.
Dirinya berjanji memusatkan perhatian terhadap sejumlah program untuk membawa IAIN Ternate jauh lebih maju, seperti penguatan akademik dan pengembangan lembaga dan SDM tenaga pendidik.
Dia mengungkapkan, penguatan akademik merupakan langkah yang membutuhkan perhatian lebih, yakni dengan mendorong proses pembelajaran dan penelitian harus berlangsung secara profesional, berkualitas, inovatif dan berdaya saing.
Sehingga, akan ditentukkan skema yang tepat untuk mendukung proses pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, agar menghadirkan kualitas dan tidak membebani para tenaga pendidik.
“Jika ada dosen yang gemar melakukan penelitian, maka kita mempermudah langkahnya dalam mencapai SKS, seperti mengkonversi mata kuliahnya ke program penelitian,” ujarnya, Senin (30/3/2026).
“Sehingga dalam satu semester dalam 12 Satuan Kredit Semester (SKS) tidak hanya ter-cover soal pendidikan pengajaran di kelas, melainkan juga meliputi kegiatan pengabdian kepada masyarakat dan penelitian,” sambungnya.
Selain menaruh perhatian soal penguatan akademik dan pengembagan SDM, Adnan yang juga sebagai ketua Ikatan Sarjanan Nahdlatul Ulama (ISNU) Malut itu menegaskan bahwa sepanjang periode kepemimpinannya, ia bakal menuntaskan impian sivitas akademika IAIN Ternate dan dan publik Malut, yakni transformasi IAIN menjadi UIN.
“Problem transformasi IAIN ke UIN hanya satu, yakni ketersediaan jumlah mahasiswa, karena dipersyaratanya harus memiliki jumlah mahasiswa 4 ribu lebih dan hal ini saya sudah tahu jelas langkah-langkah untuk mengatasinya, karena saya pernah diberi tanggungjawab oleh Rektor untuk hal ini,” akunya.
“Ada skema untuk mengatasi problem tersebut, seperti melalui program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), maupun jika mengacu pada PMA Nomor 17 tahun 2023, praktis kita juga bisa menempuh jalan Studi Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) dan Program Studi di Luar Kampus Utama (PSDKU),” sambungnya.
Untuk memastikan ketersediaan jumlah mahasiswa demi meudahkan langkah transformasi sebagaimana dipersyaratkan dalam regulasi alih status, menurut dia langkah paling ideal adalah membuka kelas IAIN Ternate di sejumlah kabupaten di Maluku Utara.
“Jadi, ke depan kita akan membuka kelas Halmahera Utara, Pulau Morotai, Halmahera Barat dan Halmahera Setalan, Halmahera Tengah serta Halmahera Timur. Dan kelas di kabupaten bukan hanya untuk strata satu, melainkan mencakup strata dua dan tiga,” terangnya.
Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Malut itu memastikan jika jumlah mahasiswa IAIN Ternate telah mencapai target sebagaimana dipersyaratkan, maka tak menutup kemungkinan dua tahun mendatang IAIN Ternate sudah bertransformasi menjadi UIN.
“Tahun 2026 ini ada dua IAIN yang bertransformasi menjadi UIN, yakni IAIN Kendari dan IAIN Gorontalo, semoga dalam dua tahun ke depan IAIN Ternate memenuhi persyaratan dan bersama IAIN Palangka Raya dan IAIN Langsa menyusul,” katanya.
“Karena itu, persyaratan utama yang sifatnya normatif itu wajib dipenuhi, dan kalau syarat normatif itu belum terpenuhi maka kita tetap menunggu,” imbuhnya.
Untuk itu, dalam menuntaskan ekspektasi (harapan, red) sivitas akademika IAIN Ternate dan publik Maluku Utara, dirinya memohon dukungan agar proses transformasi kelembagaan berjalan sesuai harapan.
“Oleh karena itu, di momentum serah terima jabatan ini, saya memohon maaf kepada kita semua, serta meminta agar kita kolaborasi untuk membangun IAIN Ternate,” ujarnya.
Sementara soal program akselerasi ke guru besar, alumni pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu menegaskan bahwa hal ini menjadi perhatian serius sepanjang kepemimpinannya.
Dia menilai program akselerasi ke guru besar memberi dampak yang jauh lebih besar terhadap lembaga, sehingga pihaknya bakal menentukan skema yang tepat demi memberi ruang yang sama kepada semua dosen yang telah memenuhi persyaratan untuk meraih status guru besar.
“Karena semakin banyak dosen meraih status guru besar, praktis menguatkan ruh perguruan tinggi. Untuk itu, kami akan mendorong para tenaga pendidik (dosen’ red) untuk memusatkan perhatian terhadap akselerasi guru besar,” pungkasnya.