• Institut Agama Islam Negeri Ternate Indonesia

Branch Manager Bank Muamalat KC Ternate Akbar Sulaiman Sebut Kurikulum Perguruan Tinggi Harus Adaptif dengan Kemajuan Teknologi Digital

Branch Manager Bank Muamalat KC Ternate Akbar Sulaiman Sebut Kurikulum Perguruan Tinggi Harus Adaptif dengan Kemajuan Teknologi Digital

Keterangan Foto: Branch Manager Bank Muamalat KC Ternate Akbar Sulaiman saat menyampaikan pandangan soal penguatan Renstra FEBI IAIN Ternate periode 2026-2030 di Studio FEBI, Sabtu (4/7/2026).

 
TERNATE – Kita sangat mengharapkan sinergitas antara Perguruan Tinggi dengan dunia industri, dan satu hal yang menjadi perhatian adalah Perguruan Tinggi harus memiliki rencana strategis dalam menghasilkan lulusan yang siap pakai di dunia industri. 

Hal ini disampaikan Branch Manager Bank Muamalat KC Ternate, Maluku Utara, Akbar Sulaiman seusai menghadiri kegiatan penyusunan Rencana Strategis (Renstra) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) IAIN Ternate, Sabtu (4/7/2026). 

Menurut dia, Perguruan Tinggi harus melakukan langkah-langkah penyesuaian pembelajaran dengan kemajuan teknologi digital saat ini, agar menghasilkan alumni yang secara skill siap pakai di dunia industri. 

“Era digital menghadirkan perubahan secara signifikan dalam aspek kehidupan, terlebih di dunia industri, untuk itu di dunia Perguruan Tinggi juga diharapkan menyesuaikan kurikulum di era digital, agar relevan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan dunia kerja,” akunya. 

“Terlebih di fakultas ekonomi, karena alumninya lebih banyak terserap di dunia industri, sehingga kurikulum pendidikan juga harus responsif dengan perkembangan teknologi informasi,” imbuhnya. 

Mantan Branch Manager Bank Muamalat KC Mamuju, Sulawesi Barat itu mengungkapkan, era digital menuntut dunia perbankan juga melakukan penyesuaian pola pemasaran melalui dunia digital. 

Sehingga, lanjut dia, mahasiswa sudah semestinya diarahkan untuk menguasai teknologi digital sepanjang pelaksanaan pembelajaran. Langkah ini, kata dia, nantinya memberi dampak positif saat mahasiswa melaksanakan kegiatan magang, maupun saat resmi menyelesaikan studi dan berkiprah di dunia industri. 

“Jadi, sekali lagi, jangan sampai kurikulum pendidikan di Perguruan Tinggi tidak sinkron dengan perkembangan teknologi informasi,” ucapnya. 

Selain itu, Akbar juga menyoroti soal pentingnya penguatan skill public speaking bagi mahasiswa di fakultas ekonomi. Dia menilai, saat ini, bukan hanya prestasi akademik yang menjadi perhatian dalam hal rekrutmen tenaga kerja di dunia industri, melainkan aspek lain yang juga menjadi acuan adalah skill komunikasi. 

Untuk itu, dia menilai sangat penting mahasiswa harus meningkatkan skill komunikasi serta penguatan mental sepanjang berada di bangku kuliah, agar nantinya jika diterjunkan ke dunia kerja dapat melakukan adaptasi dengan skema kerja yang ada pada setiap dunia industri. 

“Selama ini saya lebih mendorong mahasiswa saat PKL untuk berkomunikasi kepada orang di luar, seperti melatih mereka menjadi marketing, supaya memunculkan mental mereka dalam berkomunikasi,” ujarnya. 

“Karena mereka berada di dunia industri yang notabene membutuhkan skill komunikasi yang baik untuk menyampaikan produk perbankan kepada calon nasabah, sehingga calon nasabah tertarik membeli produk,” sambungnya. 

Alumni Universitas Hasanuddin Makassar itu menambahkan, selain perhatian dalam meningkatkan skill komunikasi mahasiswa melalui mata kuliah komunikasi, di sisi lain, mata kuliah digitalisasi pemasaran kata dia, juga harus mendapat perhatian, karena dibutuhkan dalam dunia industri. 

“Bahwa satu hal yang perlu sorot adalah penguatan kurikulum soal mata kuliah komunikasi, kemudian tentang digitalisasi pemasaran, dan juga analisis pemasaran, karena mereka (alumni, red) yang masuk dalam lingkup perusahan bisnis yang notabene profit oriented (menjadikan tujuan utama untuk mencapai keuntungan finansial, red), sehingga alumni  disaat diterima langsung siap bekerja karena telah memiliki skill-skill tersebut,” ujarnya. 

“Dengan skill komunikasi yang baik, praktis sangat dibutuhkan di lembaga perbankan, dan produk perbankan di semua bank hampir sama persis, tapi berbeda dalam hal trik mempromosikan dan membangun opini soal produk, sehingga nantinya orang terpengaruh dengan produk yang ditawarkan,” tandasnya.