Dirjen Pendis: Lewat Integrasi Keilmuan, UIN Sultan Babullah Ternate Harus Sebesar Nama Tokohnya
Keterangan Foto : Foto Bersama Usai Kuliah Umum Integrasi Keilmuan : Peta Jalan Menuju UIN Sultan Babullah di Auditorium IAIN Ternate Kampus I Dufa-dufa, Sabtu (31/10/2026) Foto : Umi Kalsum
TERNATE — Perubahan status institusi dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ternate menuju Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Babullah menuntut transformasi keilmuan yang mendasar dan komprehensif. Penegasan tersebut mengemuka dalam kuliah umum bertajuk “Integrasi Keilmuan: Peta Jalan Menuju UIN Sultan Babullah Ternate” yang dihelat di Auditorium IAIN Ternate Kampus I Dufa-Dufa, Sabtu (31/10/2026).
Acara yang dipadati ratusan civitas akademika ini dihadiri langsung oleh Rektor IAIN Ternate, Dr. Adnan Mahmud, S.Ag., M.A., serta Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Maluku Utara, Drs. H. Amar Manaf, M.Si.
Bertindak sebagai narasumber utama, Direktur Jenderal Pendidikan Islam (Dirjen Pendis) Kementerian Agama RI, Prof. Dr. H. Amin Suyitno, M.Ag., membedah urgensi peleburan batas ilmu pengetahuan dalam kerangka akademik universitas.
Prof. Amin Suyitno menjelaskan, ketika sebuah institut bertransformasi menjadi universitas—yang dalam bahasa Arab disebut jaami’ah (berasal dari kata jami’, mencakup seluruh bidang)—maka seluruh disiplin ilmu harus terintegrasi tanpa ada sekat dikotomis. Pemerintah pusat melalui Presiden telah mencanangkan program STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics). Namun, Kemenag memperkayanya dengan menambahkan unsur Art (Seni) dan Religion (Agama) menjadi STEMAR.
"Selama ini kita selalu menganggap ada ilmu umum murni dan ilmu agama. Ketika sebuah gedung megah diresmikan, kita hanya disuruh membaca doa. Kita tidak mau lagi disuruh begitu saja. Sudah saatnya engineering-nya orang IAIN, sainsnya juga dari IAIN, ahli hitung-hitungannya dari IAIN," tegas Prof. Amin di hadapan civitas akademika.
Ia mengingatkan kembali rekam jejak sejarah peradaban Islam, di mana tokoh besar seperti Al-Khawarizmi adalah peletak dasar aljabar, sementara Ibnu Sina dikenal sebagai filsuf sekaligus ahli medis yang karyanya, Al-Qanun fi at-Tibb, menjadi rujukan dunia hingga kini. Menurutnya, pandangan yang memisahkan antara ilmu agama dan ilmu sains atau kauniyah merupakan cara pandang yang ahistoris—mengabaikan fakta sejarah bahwa Islam tidak pernah mempertentangkan keduanya.
Lebih lanjut, Dirjen Pendis menguraikan elemen penting dalam STEMAR, khususnya penguatan aspek Art (Seni) dan Religion (Agama). Indonesia, termasuk Maluku Utara dengan kearifan lokal Ternate, kaya akan nilai estetika dan artistik yang harus diintegrasikan ke dalam identitas kampus.
Menyinggung persiapan alih status kelembagaan, Prof. Amin juga memberikan catatan khusus terkait penggunaan nama besar pahlawan nasional asal Maluku Utara.
"Kepada Pak Rektor, hati-hati menggunakan nama UIN Sultan Babullah. Beliau adalah tokoh hebat, satu-satunya pribumi yang berhasil mengusir penjajah Portugis dan penguasa 72 pulau sampai Mindanao. Jangan sampai nama besar ini menjadi kerdil di tangan kita. Nama besar harus inspiring, agar ke depan IAIN Ternate bisa sebesar nama Sultan Babullah," pesannya kepada Rektor dan jajaran pimpinan kampus.
Kuliah umum ini menjadi momentum reflektif bagi IAIN Ternate untuk merumuskan distingsi keilmuan yang jelas, memperkuat integrasi STEMAR, serta mempersiapkan diri secara matang menyongsong era baru sebagai universitas Islam negeri yang berdaya saing global di bumi Kie Raha.