Langsung ke konten
Jalan Lumba-Lumba, Kelurahan Dufa-Dufa, Kecamatan Ternate Utara, Kota Ternate, Maluku Utara [email protected]
IAIN Ternate Institut Agama Islam Negeri
Beranda Berita Cinta Lokasiku Hanya Pemanis, KKN “Cinta N...
Cinta Lokasiku Hanya Pemanis, KKN “Cinta Negeriku” Tahun 2026 Toreh Sejarah Paling Kondusif dan Berprestasi di Kancah Nasional

Cinta Lokasiku Hanya Pemanis, KKN “Cinta Negeriku” Tahun 2026 Toreh Sejarah Paling Kondusif dan Berprestasi di Kancah Nasional

Keterangan Foto : Suasana Penutupan KKN “Cinta Negeriku” dan Pembukaan Expo KKN Tahun 2026, Rabu (23/9/2026) di Auditorium IAIN Ternate, Sumber Foto : Umi Kalsum.


TERNATE — Pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) IAIN Ternate bertema "Cinta Negeriku" resmi diakhiri dengan gelaran pameran (expo) hasil karya mahasiswa pada Rabu, 23 September 2026 di Auditorium IAIN Ternate. Agenda pameran sekaligus penutupan resmi ini menjadi panggung pembuktian bagi mahasiswa yang telah melebur bersama masyarakat, mengaplikasikan teori ke dalam aksi nyata pengabdian, hingga mengukir prestasi di tingkat nasional.

Dalam sambutannya, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) IAIN Ternate Dr. Abd. Haris Abbas, S.Ag., M.H.I memberi predikat KKN Cinta Negeriku Tahun 2026 sebagai KKN yang paling membanggakan dan KKN yang paling  kondusif. 

Pertama, KKN yang paling membanggakan berkat pencapaian dua utusan mahasiswa KKN Nusantara; Rabiul Nguna Nguna (Mahasiswa FTIK Prodi PAI) dan Sukrian Tamrin (Mahasiswa FEBI Prodi MKS) dari IAIN Ternate berhasil mencatatkan prestasi gemilang pada ajang Kuliah Kerja Nyata (KKN) Nusantara PTKIN VI Tahun 2026 di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Kelompok tempat mereka mengabdi meraih penghargaan Juara Stand Terbaik / Desa Paling Kreatif se-KKN Nusantara VI Tahun 2026.

Kedua, KKN yang paling kondusif sepanjang  sejarah pelaksanaan KKN IAIN Ternate. “Prestasi dan Predikat ini bukan datang begitu saja, melainkan lahir dari kedewasaan kalian. Kemampuan kalian dalam menekan ego pribadi, melapangkan dada untuk menerima perbedaan pendapat di dalam tim, serta meredam potensi konflik demi kepentingan masyarakat. Kombinasi kemampuan mengelola dinamika kelompok  dan rasa cipta, rasa mengabdi inilah yang menjadi kunci utama terciptanya suasana pengabdian yang aman, harmonis, dan produktif hingga akhir pelaksanaan. Energi difokuskan untuk menghasilkan sesuatu yang positif dan membanggakan,” apresiasi Haris.

Lebih lanjut Haris Abbas menekankan bahwa di balik kesederhanaan tampilan produk yang dipamerkan, tersimpan perjuangan, tetesan keringat, air mata, serta perpaduan ilmu pengetahuan dengan realitas lapangan. Dan jika peluang-peluang kecil ini dikembangkan secara konsisten, kolaborasi untuk bidik dan standar pasar, tidak ada ceritanya lulusan IAIN Ternate menjadi pengangguran. Ini bisa menjadi pundi-pundi rupiah yang memperkuat perekonomian mahasiswa pasca KKN.

Mengakhiri sambutannya, Ketua LP2M menitipkan pesan epik dengan mengutip John A. Shedd (1928) dari buku Salt from My Attic: "A ship in harbor is safe, but that is not what ships are built for."  (Arti : Pelabuhan adalah tempat teraman bagi sebuah kapal, namun bukan untuk itu ia diciptakan. Perahu dirancang untuk menerjang samudra, menembus badai, dan menemukan benua baru sesuai tujuannya) Pesan ini menjadi pengingat agar mahasiswa tidak hanya 'berlabuh' atau menjadi pajangan di kampus, melainkan berani berlayar dan mendedikasikan ilmunya bagi masyarakat.

Sambutan penutupan dilanjutkan oleh Rektor IAIN Ternate yang diwakili Wakil Rektor Bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga, Dr. Sukardi Abbas, S.Pd., M.Pd.Si. sekaligus membuka kegiatan Expo KKN Tahun 2026. 

Membuka sambutan lewat bait pantun jenaka—Naik perahu menuju Tidore / Angin berhembus membawa cerita / KKN selesai kembali ke kampus / Eh, ada yang pulang membawa cinta—Wakil Rektor mencairkan suasana dengan menyinggung benih-benih asmara yang kerap tumbuh selama masa pengabdian.

Sukardi menegaskan bahwa KKN bukanlah sekadar penggugur kewajiban akademik. KKN merupakan laboratorium awal bagi mahasiswa untuk mengasah pemecahan masalah (problem solving), mengolah potensi sumber daya alam, sosial, hingga kearifan lokal. Di lapangan, mahasiswa dihadapkan dengan dinamika fakta sosial yang kerap kali berbenturan dengan teori.

Lebih lanjut, ia menginstruksikan agar output KKN tidak berhenti pada pajangan produk fisik di arena pameran. Seluruh pengalaman dan pengamatan selama 40 hari di lapangan wajib dinarasikan menjadi karya ilmiah—baik dalam bentuk buku, artikel jurnal, maupun poster ilmiah.

"Laporan dan karya ilmiah ini sangat penting untuk mendukung akreditasi program studi. Salah satu syarat akreditasi unggul adalah minimal 20 persen mahasiswa memiliki karya tulis ilmiah yang terpublikasi," jelas Wakil Rektor yang memiliki nama belakang sama dengan Ketua LP2M IAIN Ternate.

Mengakhiri sambutannya, Warek 1 mengingatkan bahwa masa pengabdian 40 hari ini hanyalah laboratorium kecil. Laboratorium sesungguhnya baru dimulai setelah mahasiswa menyelesaikan studi dan resmi diwisuda. Seluruh peserta diimbau untuk segera menyelesaikan kewajiban akademik tersisa dan lulus tepat waktu. Keterlambatan kelulusan tidak hanya merugikan mahasiswa secara personal, tetapi juga berdampak langsung pada penilaian akreditasi program studi di IAIN Ternate.

Bagikan Artikel